Tuesday, December 29, 2020

story time

Random banget sih ini, dari baca tweet Atika tentang housing, malah jadi keingetan sebuah cerita yang sebenernya gak nyambung sama housing.

Gue pernah dicurhatin sama fresh grad. Dia nganggur hampir setahun sejak lulus. Padahal dari universitas swasta ternama, IPnya juga lumayan (dibandingkan gue yang hampir gak lulus TA). Menurut dia, dia depresi karena belum kerja. Mau dateng ke psikiater, belum punya duit sendiri. Problemnya muter aja di situ. Pas gue tanya, udah ngelamar ke mana aja? Lah ternyata belum sama sekali. Ya gimana mau perbaikan kenapa ga diterima, nyoba aja belum.

Gue ajak ngobrol lagi, kenapa belum lamar kerja? Dia bilang, porto gue jelek, ga berani daftar takut diketawain. Kalau gue gak ngerti kerjanya ngapain gimana? Kalau tiba2 gue dipecat gimana? 

Di sana lah gue baru menyadari, apa yang gue anggap "common sense" belum tentu "common" bagi orang lain. Gua pun mencoba menceritakan pengalaman ketika gua masih fresh grad: bahwa ga ada porto yang sempurna. Kalau baru lulus portonya udah sempurna, langsung bikin perusahaan sendiri aja atuh. Bahwa pertama kerja, pasti beda dengan apa yang dipelajari. Bahkan dia baru tau bahwa ada yang namanya "kontrak kerja", ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh karyawan kepada perusahaan vice versa.

Setelah itu,  dia mulai bikin linked in, jobstreet, segala macem. Hingga akhirnya dipanggil interview 2 perusahaan. Advice gue saat itu: pilih yang offer benefit dan kemungkinan berkembang lebih besar. Sebulan kemudian, dia diterima dan mulai bekerja.

Sebenernya, kejadian tersebut bisa diaplikasikan terhadap kondisi gue terkait pernikahan. Gue pernah bilang ke Citra dan Windha, syarat calon suami gue juga cuma satu: I won't try to find the one, but if someone approaches me, I'll gladly accept him. Padahal ya gimana mau disamperin kalau gak "dipasarkan"? No one even know you existence if you don't sell yourself. Ahahah.

Balik lagi ke kisah utama. Gue kira problem selesai sampai di sana. Ternyata, dia masih merasa ga ada yang mengerti hal yang dia mau. Salah gue yang saat itu meremehkan kondisi mental, menganggap bahwa depresi dia hanya berakar dari ketidak tahuan yang gue anggap sudah didiskusikan dan selesai. Bisa-bisanya gue bilang "makanya ga perlu membuat ketakutan-ketakutan yang dibuat sendiri". 

Doubt you will find this post but Sub, if you did, I am sorry for what I've said in the past. I'm still learning my way on adulthood too. And sorry I'm too chicken to say it directly, eventhough I know how to reach you. Thank your for the time we spent together in the cord. It was delightful and help me through a lot. I'll always wish the best for your future.

Regards,
The hardcorest seventeen stan you've ever know

Wednesday, July 29, 2020

Ketika Hobi Menjadi Tambahan Uang Jajan

 
God serves me everything on a silver platter yet I still have the audacity to complain and ask for more
Sebelum memulai, terima kasih saya haturkan kepada akun Twitter @windhamoekti atas idenya yang amazing show stopping fantastic etc etc, Lady Gaga shaking.

Bermula dari akhir bulan Juni ketika Windha meminta tolong untuk dibuatkan rajutan penyambung masker earloop. Contoh sudah ada, bahan benang banyak, pola gampang. Yang belum punya tinggal kancingnya. Awalnya, karena niat buat satu dua biji (buat Winda aja), aku mau beli kancing eceran di tukang jait depan kosan. Ternyata abang tukang jahit ga punya stok kancing yang aku mau, sementara hasil cari di online marketplace, pembelian minimal 100pcs. Aku lempar wacana ke geng internal, kalau aku bikin ginian, kalian mau beli ga? Pas itu masih mentah bgt idenya. Tujuan utama sekedar 'kalo aku jadi beli 100pcs kancing, semoga ga ada yang sisa. Abisnya sayang bgt buat apaan kancing banyak banyak?'

Ternyata geng tertarik dengan barang yang belum bernama ini, dan Windha juga janji untuk jualin di kantor dia. Oke, setidaknya dari 100 kancing minimal terpakai 40biji, modal beli bisa tertutup. Pas kancing udah sampe, aku liat label jumlah kancing lah kok 100 pasang alias 200pcs? di situ aku jadi jiper dan mikir keras ini gimana ngabisinnya?? Berarti aku harus bikin 100 biji si cantelan masker dong? Mikirnya aja udah mau nyerah duluan.

Hari pertama mulai buka PO, belum punya sistem, mau bikin poster aja ga ada. Bener bener berantakan free memory sembarang foto, post di instagram. Udah aja gitu beres. Bikinnya juga pake bahan sisa belum ada pola fix dan pilihan warna terbatas. Customer PO perdana aku ada beberapa yang kebagian bentuk aneh, atau bahan kurang ok, jadinya aku kompensasi dengan kasih free 1pcs dan harga promo diskon.

Minggu pertama PO, jumlah pesanan mencapai 60an. Antara happy karena insya Allah ini mah balik modal bahkan dapet untung, tapi ga kebayang berapa lama ngerjainnya. Sambil ngerjain pesenan, sambil belajar banget dari awal, gimana supaya keliatan rapi, supaya tiap item kondisi nya oke dan sama persis dan lolos quality control. Maaf dan terima kasih banget buat yang beli barang PO perdana, kalau beli lagi pasti bisa liat perbedaan kualitas terutama kerapiannya.

Minggu kedua, udah lebih oke, udah punya pola, udah tau estimasi waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan, udah tau seberapa banyak bahan yang dibutuhkan. Udah bisa menghitung juga profit yang dihasilkan. Yang tadinya aku sekedar iklan aja lewat ig, ternyata banyak teman yang mau reseller, bahkan sampai bantu bikinin template buat jualan, bantuin pasang kancing, bantuin photoshoot, ga pake minta bayaran, aku bayarnya dengan bikinin earsaver custom. 

Jujur aku happy banget proyek mini yang awalnya hanya menyalurkan hobi, ternyata profit dalam sebulan cukup untuk ngasih makan anak yatim 50x dan beli album seventeen satu set. Nilai positif lainnya, sebagai anak yang aslinya ekstrovert, jualan ini jadi ajang silaturahmi dengan temen.
 
Untuk pengembangan bisnis, rencana nya, ke depan aku mau buat coaster atau pouch atau topi. Aku juga mau belajar teknik baru dan benang yang cocok digunakan untuk masing masing benda dan teknik. Ga tau kapan sih, kita anak santai yang mengutamakan kebahagiaan hehe. 

Kesimpulan dan hikmah yang dapat diambil dari cerita ini adalah kalau melihat jauh ke depan rasanya sulit, jalan pelan pelan selangkah demi selangkah. Kerjain aja dulu, selesaikan masalah sambil jalan. Kalau semua dipikirin di awal ga akan pernah mulai. Nikmati setiap proses, di dalam hati yang senang terdapat jiwa yang tenang.

Friday, July 10, 2020

What's Changed in the Span of 4 Years?

Assalamualaikum! 
Pada post pertama ini, aku akan menceritakan pembaruan dalam hidup yang terjadi sejak terakhir kali di blog lama.

In 30 days, I will be leaving my first half of 20s and welcoming the last half of my young adult part. It is more scary unlike back then when I was greedy to quickly reach the big 2. So I am going to count my blessing and make life more endurable.

story time

Random banget sih ini, dari baca tweet Atika tentang housing, malah jadi keingetan sebuah cerita yang sebenernya gak nyambung sama housing. ...